/ sekolah

Infra Digital Nusantara Hadir dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK se-Jawa Barat

Bandung (16/10) – Infra Digital Nusantara kembali hadir dan turut serta dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). Acara yang bertempat di Aula Moh. Yamin, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat ini dihadiri oleh seluruh Kepala Sekolah SMK Negeri dan Swasta se-Jawa Barat.

mkss01

Acara ini terbagi menjadi dua sesi, yakni pembahasan kualitas dan perkembangan sistem pendidikan SMK dan pembahasan acara Expo Pendidikan Teknologi (EPITECH) XIII Jabar 2019.

Sesi pertama dibuka oleh Deden Syaiful Hidayat selaku Kepala Bidang Pembinaan SMK (PSMK) Dinas Pendidikan Jawa Barat. Saat ini, masalah SMK adalah grand design sekolah mulai dari target jangka pendek dan jangka panjang yang belum terstruktur dengan baik dan cenderung acak. Ditambah pula dengan kelengkapan administrasi yang belum tertata rapi. Deden menuturkan bahwa selama ini jika ada suatu kegiatan di sekolah, administrasi dan dokumentasi acara seringkali belum tercatat dengan baik. Itulah mengapa setelah ini setiap sekolah akan mengisi profil yang templatenya sudah disediakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat. Profil ini nantinya dapat dijadikan data untuk membangun koneksi dengan Infra Digital Foundation, Yayasan yang berada di bawah naungan jaringan Infra Digital Nusantara.

Sesi kedua membahas tentang Expo Pendidikan Teknologi (EPITECH) XIII Jabar tahun 2019. Acara yang akan berlangsung di Kota Kuningan, Jawa Barat pada 5-7 November 2019 ini bertujuan sebagai salah pembuktian bahwa output SMK adalah output yang berkualitas. Karya dan produk keluaran SMK dapat bersaing dan berkompetisi di dunia industri era ini.

Tak hanya pameran karya dan produk, namun juga akan ada seminar pendidikan tentang perkembangan dunia SMK yang akan mengarah pada revolusi industry 4.0, Job Fair, Penandatangan MoU antara perusahaan yang akan bermitra dengan sekolah-sekolah SMK dan acara hiburan lainnya.

“Harapannya agenda EPITECH ini merubah stigma bahwa SMK bukanlah penyumbang angka pengangguran, namun kita output SMK mampu untuk menyumbang karya yang mampu bersaing era revolusi 4.0”, tutur Deden Syaiful Hidayat.